Selasa, 27 Maret 2012

“Latar Belakang dan faktor timbulnya Ilmu Kalam”.


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT,atas segala nikmat,karunia,serta hidayah-Nya yang diberikan kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan tugas yang diamatkan kepada kami, untuk membuat makalah tentang “Paragraf” dengan baik.
Makalah ini sebagai salah satu media pembelajaran yang baik guna menunjang dalam proses pembelajaran siswa. Dalam makalah ini kami membahas tentang hal-hal yang berkenaan tentang “Latar Belakang dan faktor timbulnya Ilmu Kalam”.Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Akhirnya kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.Do’a dan dukungan yang mampu memberi kami dorongan semangat dan kekuatan sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.Kami menyadari bahwa makalah ini tentunya jauh dari kesempurnaan yang semestinya,oleh karena itu kami menerima segala masukan-masukan guna kesempurnaan makalah ini.
Depok, 09/03/2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Kepercayaan sesuatu agama merupakan pokok dasarnya. Islam sebagai agama yang mengingkari agama-agama Yahudi dan Nasrani serta agama-agama Berhala merasa perlu untuk menjelaskan pokok dasar ajarannya dan segi-segi dakwah yang menjadi tujuannya, al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad saw banyak berisi pembicaraan tentang Wujud Tuhan, Keagungan, dan ke Esaan-Nya. Qur’an terutama menyebutkan untuk sifat-sifat Tuhan yang banyak sekali dan sebagian lagi menyatakan macam-macam hubungan dengan makhluknya seperti mendengar, melihat, Maha adil, menciptakan, memberi rijki, menghidupkan, mematikan dan sebagainya.
Ilmu tauhid belum dikenal pada masa Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya melainkan baru dikenal pada masa kemudiannya, setelah ilmu-ilmu keislaman satu persatu muncul dan setelah orang banyak suka membicarakan alam ghaib atau metafisika.
1.      POKOK MASALAH
A.     Masalah-Masalah Ilmu Kalam / Ilmu Tauhid
B.     Latar Belakang Munculnya Ilmu Kalam / Ilmu Tauhid
C.     Perbedaan Metode Ilmu Kalam Dengan Filsafat Islam, Fiqh dan Tasawuf
D.    Pengaruh Sosial Politik Terhadap Ilmu Kalam / Ilmu Tauhid
BAB II
PEMBAHASAN
1.      A. Faktor-Faktor Munculnya Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam)
Masalah-Masalah Ilmu Kalam / Ilmu Tauhid. Adalah aqidah islam karena sesuai dengan dalil-dalil akal pikiran dan dalil naqli, menetapkan keyakinan aqidah dan menjelaskan tentang ajaran-ajaran yang dibawa oleh junjungan Nabi Muhammad SAW, Bahkan merupakan kelanjutan dari ajaran para Nabi sebelumnya. Al-Qur’an sebagai kitab suci menggariskan ajaran-ajarannya diatas jalan yang terang yang belum pernah dilalui oleh kitab suci sebelumnya, yaitu: jalan yang memungkinkan orang di zaman ia diturunkan dan orang yang datang kemudian untuk melaluinya.
Latar Belakang Munculnya Ilmu Kalam / Ilmu Tauhid. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya Ilmu Kalam / ilmu tauhid dapat dibagi menjadi dua , yaitu faktor dari dalam ( intern) dan faktor dari luar ( extern)
1.      Faktor Intern. Faktor-faktor intern yang menyebabkan timbulnya ilmu kalam / ilmu tauhid ada tiga macam, yaitu:
2.     Faktor Extern. Faktor-faktor extern ada tiga factor penting, yaitu:
1.      Sesungguhnya Al-Qur’an itu sendiri disamping seruan dakwahNya kepada tauhid dan mempercayai kenabian dan hal-hal yang berhubungan dengannya juga menyinggung golongan-golongan dan agama, yang tersebar pada masa Nabi Muhammad SAW lalu Al-Qur’an itu menolaknya dan membatalkan pendapat-pendapatnya.
2.     Sesungguhnya kaum muslimin telah selesai menaklukkan negeri-negeri baru , dan keadaan mulai stabil serta melimpah ruah rezekinya ,disinilah akal pikiran mereka mulai memfilsafatkan agama .
3.     Masalah –masalah politik
1)      Sesungguhnya kebanyakan orang-orang memeluk islam sesudah kemenangannaya, semula mereka memeluk berbagai agama, yaitu: Agama Yahudi, Kristen, Manu, Zoroaster, Brahmana, Sabiah, Atheisme dan lain-lain.
2)      Sesungguhnya golongn islam yang terdahulu terutama golongan Mu’tazilah memutuskan perhatiannya yang terpenting adalah untuk dakwah islamiah dan bantahan alasan orang-orang yang memusuhi islam.
3)      Faktor ketiga ini merupakan kelanjutan factor yang kedua. Yaitu sesungguhnya kebutuhan para mutakallimin terhadap filsafat itu adalah untuk mengalahkan ( mengimbangi ) musuh-musuhnya, mendebat mereka dengan mempergunakan alasan-alasan yang sama, maka mereka terpaksa mempelajari filsafat Yunani dalam mengambil manfaat logika, terutama dari segi Ketuhanan. Kita mengetahui An-Nadhami ( tokoh Mu’tazilah ) mempelajari filsafat Aristoteles dan menolak babarapa pendapatnya.
4)      Perbedaan Metode Ilmu Kalam Dengan Filsafat Islam, Fiqh dan Tasawuf
Yang akan dibicarakan disini ialah perbedaan metode ilmu kalam dengan beberapa ilmu-ilmu keislaman lainnya, yaitu: Filsafat Islam, Fiqh dan Tasawuf.
5)      Pengaruh Sosial Politik Terhadap Ilmu Kalam / Ilmu Tauhid. Apabila memperhatikan masalah khilafah ( bentuk pemerintahan ) dengan akal pikiran yang sehat, maka dapat disimpulkan bahwa masalah khilafah adalah soal politik belaka. Agama tidak mengharuskan kaum muslimin mengambil bentuk Khilafah dengan sistem tertentu. Tetapi Agama hanya memberikan ketentuan supaya memperhatikan kepentingan umum. Mengenai khilafah Ibnu Taimiyah memandang bahwa tata politik yang lahir di Madinah setelah Nabi Muhammad SAW wafat adalah despensasi khusus dari Allah dan menyebutnya khilafah an-nubuwwah. Ia berpendapat bahwa kekholifahan ini juga memiliki sifat yang sui generic, yang tidak dapat terulang kembali didalam sejarah karena Nabi telah menyatakan; Kekholifahan ini, hanya bertahan selama tiga puluh tahun setelah itu yang ada hanyalah politik dalam pengertian yang umum.
Memang benar bahwa kholifah-kholifah dari dinasti-dinasti Umayah, Abbasiyah dan lain-lainnya menamakan diri mereka sebagai khulafah tetapi kaum muslimin terpaksa menerima hal itu karena mereka mamiliki kekuatan otoritas yang nyata dan mereka adalah “ Raja-raja kaum muslimin” dan “ Penguasa-penguasa diatas dunia “.Mereka tidak memerintah sebagai wakil-wakil Nabi, tetapi hanya tampil sesudah beliau wafat dan melaksanakan syariah sebagai hukum dasar Negara dengan semua upaya mereka dan oleh karena secara populer dijuluki sebagai khulafah. Jadi menurut Ibnu Taimiyah praktek-praktek yang telah dilakukan kaum muslimin di dalam sejarah tidak dapat di jadikan landasan filsafat politik tidak mau ada kesalahan dengan membenarkan kekuatan politik yang actual sebagaia otoritas yang dihibahkan oleh kholifah boneka tersebut. Karena tidak menemukan petunjuk mengenai teori teori konstitusionsl didalam Al Qur’an, Sunnah atau dalam praktek Khulafaur-Rasyidin, maka teori klasik mengenai kekhalifahan ditolaknya.
Qur’an sendiri, sebagai kitab utama agama Islam, menyerukan pemakaian akal pikiran dan memperhatikan alam semesta ini dengan panca indra, dan mencela keras taqlid (ikut – ikutan), terutama dalam soal- soal kepercayaan agama. Juga al-Qur’an banyak menyinggung dan membantah golongan-golongan atheist (dahriyyin), golongan musyrikin, mereka yang tidak mempercayai keputusan Nabi-nabi.
Karena itu kaum muslimin sendiri harus melepaskan akal pikirannya untuk menggali isi al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai penjelas dan juru penerangnya (al-Qur’an). Pada waktu Rasul masih hidup, apabila terdapat sesuatu kesulitan atau sesuatu yang tidak dapat dipahami, atau diketahui, maka mereka bisa menanyakannya langsung kepada Rasul.
Setelah Rasul wafat, timbullah persoalan, siapakah yang berhak memegang khilafat (pimpinan kaum muslimin)sesudahnya? Dengan berlalunya masa, muncullah apa yang disebut ”peristiwa Ali r.a kontra Usman r.a. “ yang telah banyak menimbulkan persengketaan dan perdebatan dikalangan kaum muslimin untuk di ketahui siapa yang benar dan siapa pula yang salah.
Pertama yang di perselisihkan ialah soal “Imamah” (pimpinan kaum muslimin) dan syarat- syaratnya, serta siapa yang berhak memegangnya .Golongan syiah (pengikut Ali r.a) memonopolikan Imamah tersebut kepada Ali r.a. dan keturunan-keturunannya, sedangkan golongan khawarij dan Mu’tazilah meganggap, bahwa orang yang berhak memangku jabatan Imamah ialah orang yang terbaik dan paling cakap, meskipun ia budak belian atau bukan orang Arab (Quraisy). Dalam pada itu, menurut mayoritas kaum muslimin, yang pendapatnya moderat, yang berhak memangku jabatan tersebut ialah orang yang paling cakap dari golongan Quraisy, karena Rasul sendiri mengatakan : “imam-imam terdiri dari orang Quraisy “(bukan imam dalam sholat).
Setelah terjadi pembunuhan atas diri Usman r.a (th.655 M) timbul perselisihan yang lain, yaitu sekitar prsoalan dosa besar, apa hakekatnya dan bagaimana hukum orang yang mengerjakannya. Apa yang di maksudkan dengan dosa besar mula-mula ialah pembunuhan tersebut. Kelanjutannya sudah barang tentu ialah perselisihan tentang iman, apa pengertian dan bagaimana batasanya, serta pertaliannya dengan perbuatan lahir. Perselisihan ini telah menimbulkan golongan- golongan Khawarij, Murjiah dan kemudian lagi golongan Mu’tazilah,
Dengan demikian, maka perselisihan dalam soal dosa besar (pembunuhan) sudah bercorak agama yang sebelumnya masih bercorak politik dan kemudian menjadi pembicaraan yang penting dalam Tauhid Islam, sebagaimana halnya dengan urusan khalifah dan Imamah, sedangkan soal-soal ini sebenarnya lebih tepat kalau di masukkan kedalam ilmu fiqih karena bertalian dengan hukum amalan lahir, bukan dalam bidang kepercayaan.
Akan tetapi karena pendapat beberapa golongan Islam dalam soal-soal tersebut hampir membawa mereka keluar dari dasar-dasar agama Islam, maka Ulama–ulama Tauhid Islam memasukan soal-soal tersebut kedalam pembahasan Ilmu Tauhid agar bisa di bahas dengan sebaik-baiknya, lepas dari rasa fanatik dan penguasaan hawa nafsu dan agar bisa jelas antara yang benar dan yang salah, untuk menjaga kemurnian agama.
Dalam daerah-daerah yang di datangi oleh kaum Muslimin, terutama di Irak, pada pertengahan abad hijriah, terdapat bermacam-macam agama dan peradaban, yaitu peradaban Persia dan India yang dibawa oleh orang-orang persi dan India yang masuk islam; peradaban Yunani yang dibawa oleh orang-orang Suriani dan oleh buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab, peradaban yang dibawa oleh orang-orang Masehi yang telah memfilsafatkan agamanya dan memakai filsafat Yunani sebagai alat untuk memperkuat kepercayaan mereka. Sebagai akibat pertemuan agama islam dengan peradaban-peradaban tersebut, maka sebagian kaum muslimin mulai mencetuskan fikiran-fikiran yang bercorak filsafat dalam soal-soal agama yang tidak dikenal sebelumnya, serta mereka mulai memberikan pembuktian pembenarannya dengan alasan-alasan logika.
Disamping itu ada juga yang menyatakan bahwa lahirnya ilmu kalam disebabkan karena perbedaan pendapat mengenai hukum, masihkah seorang muslim sebagai muslim setelah melakukan dosa besar? Ataukah menjadi kafir?.
Mengenai hal tersebut golongan khowarij menegaskan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar tidak lagi sebagai muslim. Sebagai reaksi terhadap pandangan kaum khawarij yang keras itu timbullah kaum murji’ah. Menurut mereka orang islam yang berdosa besar tidak menjadi kafir, tetapi tetap mukmin. Soal dosa besar yang bersangkutan, mereka serahkan kepada keputusan Tuhan di hari perhitungan kelak. Sehubungan dengan masalah orang yang berbuat dosa besar sebagai diperdebatkan oleh kaum murji’ah dan khawarij diatas, timbul pula kaum mu’tazilah, sebagai aliran ketiga dalam ilmu kalam. Bagi mereka orang islam yang berbuat dosa besar bukan kafir tetapi bukan pula mukmin.
Selain masalah orang islam yang berdosa besar sebagaimana disebutkan di atas, muncul pula masalah takdir Tuhan. Menurut paham kodariyah bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Sedangkan menurut paham jabariyah bahwa Tuhan telah menakdirkan perbuatan manusia sejak awal, dan pada hakikatnya manusia itu tidak memiliki kehendak dan kudroh.
BAB III
PENUTUP
1.      A. Kesimpulan
Adanya perbedaan-perbedaan paham antara golongan atau paham khowarij, murji’ah dan muktajilah dalam menyikapi masalah seperti yang terjadi diatas. Akhirnya para Ulama ahli kalam (tauhid) merasa khawatir golongan-golongan tersebut didalam menentukan hukum dan menyikapi masalah-masalah yang terjadi, keluar dari nash yang sudah digariskan oleh al-qur’an dan hadits, terutama yang berkaitan dengan aqidah atau kepercayaan umat islam.
Maka lahirlah ilmu kalam sebagai landasan dan acuan didalam menyikapi masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah-masalah aqidah (kepercayaan), sehingga tidak keluar dari ajaran dan ketentuan-ketentuan yang telah dinashkan oleh hukum-hukum islam baik al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah saw.
Keyakinan yang wajib kita pegang ialah, bahwa agama islam adalah agama (kepercayaan) “Tauhid” (monotheisme), bukan agama yang berpecah-pecah dalam keprcayaan-kepercayaan itu. Akal adalah pembantunya yang paling utama dan naql (al-Qur’an dan Sunnah) adalah merupakan sendi-sendi yang paling kukuh. Dibalik itu hanyalah godaan-godaan setan belaka dan nafsu-nafsu orang yang haus kekuasaan.
Qur’an menjadi saksi bagi segala amal perbuatan manusia dan menjadi hakim yang menghukum benar atau salahnya masing-masing orang dalam amalnya.
1.      B. Penutup
Sebagai mahasiswa theology ideal dan seyogyanya, dengan adanya karya yang sangat memberi andil besar dalam kajian akidah (tauhid) khususnya, yaitu “ilmu kalam (tauhid)” dapat memberi jalan, sehingga tidak ada lagi alasan untuk hanya ikut-ikutan (taqlid) dalam bertauhid. Ilmu tauhid adalah ilmu yang sangat penting dalam membangun keimanan yang sejati, Ilmu tauhid adalah merupakan tiang yang amat kokoh dari segala ilmu, menurut Syekh Muhammad Abduh. 
Tujuan terakhir dari ilmu ini, ialah menegakkan suatu kewajiban yang sama-sama disepakati, yaitu mengenal Allah yang Maha Esa, Maha tinggi dengan segala sifat-sifat yang wajib melekat pada diri-Nya, serta menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang mustahil bagi Zat-Nya. Membenarkan para Rasul-Nya dengan keyakinan yang dapat menentramkan jiwa, dengan jalan berpegang teguh kepada dalil, bukan semata-mata menyerah kepada taqlid buta, sesuai yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan Sunnah Rasul kepada kita. Ia menganjurkan kepada kita untuk melakukan penyelidikan dengan mempergunakan akal, kepada benda-benda alam yang terdapat di sekitar kita, menembus rahasia-rahasia alam itu sekedar yang dapat dicapai, sehingga timbul keyakinan terhadap apa-apa yang telah dianjurkan kita menyelidiki nya.
Demikian penulisan makalah yang dapat kami sajikan dan kami sangat menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan dan pengembangan. Dan semoga ada manfaatnya. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi A, Theology Islam, (Jakarta: PT. Al Husna Zikra, 1995), cet.6
Nata Abuddin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 1993)
Abduh Syekh Muhammad, Risalah Ilmu Tauhid, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1992)
Penyusun

Senin, 05 Maret 2012

Komunikasi Massa (Dulu dan Sekarang)

Pengertian Proses Komunikasi
  • “communication is the act of sending ideas & opinions from one person to another”.
  • One to one, one to many, many to one, many to many. Komunikasi massa dikategorikan berada di ranah komunikasi One to Many.
  • Communicolog: membagi 3 jenis bagaiman manusia berkomunikasi.


- intra personal: komunikasi dengan pribadi sendiri.
- interpersonal
- mass communication

Apa sih! komunikasi massa itu
  •   Mass communication is communication from one person or a group of persons through a transmitting device ( medium) to large audiences or markets.
  •    Ada 6 pengertian:
  •    Sender, message, receiver, channel, feed back dan noise.
  •    The sender (or source) puts the message on what is called channel.
  •    Pada komunikasi massa : sender menaruh pesan di chanel/media (medium), untuk mendapatkan opini publik yang diharapkan oleh si sender tersebut. 

Elements mass communication
—  Sender: komunikator
—  Message: gagasan, ide, pemikiran ilmiah, opini, penolakan.
—  Medium: the means by which a message reaches the audience. The singular word from media.
—  Noise: distortion that interferes with clear communication
—  Feedback: a response sent back to the sender from the person who receives communication.

Definisi komas
—  Beberapa defenisi komunikasi massa.
—  Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak (Ruben, 1992)
—  Komunikasi massa adalah pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang. (Bittner, 1980)
—  Komunikasi massa adalah suatu proses dalam mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara. (DeFleur dan Denis, 1985) 

Pandangan kepada media konvensiona
  •    SMCR Model
       gate keepers: decide what will appear in the media
       agenda setting: the ability of the media to determine what is important.
       framing: the ability of media to create news under their point of view.
       Point of view: the way media to see fenomena as news. Sudut pandang.

Ciri2 komas
Komunikasi bersifat satu arah
    •   Tidak ada feedback dalam waktu yang sama.
    •   Penyiar radio, presenter.
    •   Pada koran, rubrik pembaca, surat pendengar (delayed feedback).


Komunikator harus melakukan perencanaan:
    Materi produksi iklan, pidato, naskah dll

Komunikator pada komunikasi melembaga.
  Komunikator kolektif (tersebar dari hasil kerja sama seorang) ada wartawan, redaksi, redaktur iklan,editor dll.

  Menyebarkan berita atas nama lembaga.

  Dikenal dalam bahasa asing “institutionalized communicator”  media massa sebagai suatu institusi atau organisasi

Pesan Bersifat Umum
  Pesan yang disebarkan melalui media massa bersifat umum (public) karena ditujukan kpd publik.
  Media massa vs media nir massa. Nir massa ,media yang ditujukan kepada orang atau kelompok tertentu.
  Untuk kepentingan umum. 

Media komunikasi massa meneimbulkan keserempakan.
  Dilihat dalam skala besar.
  Film juga berkata demikian dan menimbulkan kesan yang serempak.
  Hakikinya dikarenakan menimbulkan keserempakan (simultaneity)


Komunikan media massa bersifat heterogen
  Audiences bersifat heterogen.
  Pesan yang disampaikan akan diserap oleh siapa saja, segala umur, jenis kelamin, background pendidikan, pekerjaan.
  Kelompok sasaran, target groups
  Khalayak sasaran, Target audiences


Komas in daily live
  Memahami komunikasi massa tidak akan terlepas dari media massa, karena objek kajian terbesar adalah pada peran dan pengaruh yang dimainkan media massa. Di bawah ini akan diuraikan  faktor-faktor yang mendasar dari media massa:
  1.        media massa merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lain yang terkait. Media juga merupakan industri sendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya. Di lain pihak, institusi media di atur oleh masyarakat.
  2.        media massa merupakan sumber kekuatan- alat kontrol, manajemen, inovasi dalam masyarakat  yang dapat didayagunakan sebagai penganti kekuatan atau sumber daya lainnya.  
3.        media merupakan forum atau agen yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
  4.        media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.
  5.        media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.



Media massa sebagai pengawasan
—  Trias politika: yudikatif, legislatif dan eksekutif diatur sedemikian rupa untuk memiliki fungsi kontrol terhadap negara...
—  Apa yang terjadi bila mereka berselingkuh?
—  Pers memiliki peran fundamental sebagai pengatur.


Rabu, 29 Februari 2012

Komunikasi


Pengantar Komunikasi




Nama    : Fiydy Akas
         Kelas   : Desain Grafis 2F
         Nim     : 3611020027


Teknik Grafika dan Penerbitan
Politeknik Negeri Jakarta
Tahun ajaran 2011-2012


Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak disadari komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, paling tidak sejak ia dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Gerak dan tangis yang pertama pada saat ia dilahirkan adalah tanda komunikasi (widjaja, 1986).

Sementara itu, untuk menjalin rasa kemanusiaan yang akrab diperlukan saling pengertian sesama anggota masyarakat. Dalam hal ini faktor komunikasi memainkan peran penting, apalagi bagi manusia modern. Manusia modern yaitu manusia yang cara berpikirnya tidak spekulatif, tetapi berdasarkan logika dan rasional (penalaran) dalam melaksanakan segala kegiatan dan aktivitasnya. Kegiatan dan aktivitasnya itu akan terselenggara dengan baik melalui proses komunikasi antar manusia. Komnikasi telah menjadi bahan dan kehidupan manusia. Berhasilnya suatu komunikasi ialah apabila kita mengetahui dan mempelajari unsur-unsur yang terkandung dalam proses komunikasi. Unsur-unsur yang dimaksud adalah sumber (resource), pesan (message), saluran (chanel, media) dan penerima (receiver, ausience).

Dalam proses komunikasi bersamaan tersebut diusahakan melalui tukar menukar pendapat, penyampaian pesan informasi, serta perubahan sikap dan perilaku. Pada hakekatnya setiap proses komunikasi terdapat unsur-unsur tersebut yaitu sumber pesan, saluran, dan penerimaan, disamping masih terdapat pula unsur pengaruh (effects) dan umpan balik (feed back). Bagaimana juga setiap komunikasi yang dilakukan senantiasa menambah efek yang positif atau efektivitas komunikasi. Komunikasi yang tidak menginginkan efektivitas, sesungguhnya adalah komuikasi yang tidak bertujuan. Efek dalam komunikasi adalah perubahan yang terjadi pada diri penerima (komunikan atau khalayak), sebagai akibat pesan yang diterima baik langsunag maupun tidak langsung/ maupun media massa jika perubahan itu sesuai dengan kegiatan komunikator, maka komunikasi itu disebut efektif (Anwar Arifin, 1984).

Disiplin ilmu psikologi mencoba menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikasi, psikologi memberikan karakteristik manusia komunikasi serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya. Pada komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan bertanya; Apa yang menyebabkan satu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain, sementara sumber komunikasi yang lain tidak. Psikologi juga tertarik pada komunikasi diantara individu; bagaimana pesan dari seorang individu menjadi stimulus yang menimbulkan respons pada individu yang lain. Psikologi meneliti proses mengungkapkan pikiran menjadi lambang, bentuk-bentuk lambang, dan pengaruh lambang terhadap perilaku manusia dan pada saat pesan sampai pada diri komunikator, psikologi melihat kedalam proses penemuan pesan. Menganalisa faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhinya, dan menjelaskan berbagai corak komunikan ketika sendirian atau dalam kelompok.

Selain itu juga ada komunikasi dengan pasar dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan timbulnya situasi “Economic of Relatife Plenty”, dalam lingkungan bisnis, ada aneka sarana komunikasi perdagangan yang dapat dipergunakan para pengusaha untuk berkomunikasi dengan masyrakat konsumen. Sarana-sarana komunikasi perdagangan yng tersedia antara lain adalah dalam wujud pengiriman surat, pengiriman kawat, percakapan telepon, kunjungan pribadi, dan lain-lain. Dan dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi yang baik sangat penting untuk berinteraksi antar personal maupun antar masyarakat agar terjadi keserasian dan mencegah konflik dalam lingkungan masyarakat.Dalam hubungan bilateral antar negara diperlukan juga komunikasi yang baik agar hubungan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Sebenarnya sangat sulit untuk mendeteksi kapan dan bagaimana pertama kali dipandang sebagai faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Berdasarkan sejarah, komunikasi diekspresikan dan berperan dalam kehidupan manusia yaitu pada abad 5 SM dalam tulisan klasik bangsa Mesir dan Babilonia dan essay dari Hommer yang berjudul Iliad pada abad 3000 SM. Pada tahun 2675 SM melalui ‘The Precepts” adalah berisi panduan komunikasi efektif. Dan juga tampak pada kitab perjajnjian lama (Bible) ketika Tuhan bersabda :Let there be light:and there was light. Dan juga pada masayarakat Yunani yang melakukan kehidupan demokratis dengan komunikasi oral.







DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar. 1977 Komunikasi Dalam Teori dan Praktek ( 1 dan 2). Bandung : Penerbit Armico.
Hadjam, M.N.R. Komunikasi Terapuitik (Makalah Pelatihan Untuk Pelatih Bagi      Konsultan NAPZA Studi Piloting Krisis Unit SMU)
Rakhmad J. 1993. Psikologi Komunikasi. Bandung : Penerbit PT. Remaja Rosdakarya
Widjaja, A.W.. 2000. Ilmu Komunikasi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Organisasi.org  Komunitas & Perpustakaan Online  Indonesia

Selasa, 21 Februari 2012

Modal Ketangguhan


Robinson Cruzoe’s
menabung untuk menjadi lebih besar
dan ketangguhan tekad yang tertanam dalam jiwa.

KEKISRUHAN sepasang kekasih, Robinson Cruzoe dan Friday, bermula karena kekecewaan terhadap sebuah perselingkuhan. Kekecewaan pemuda Inggris Robinson Cruzoe membuat dia bertekad  pergi dari negaranya untuk memiliki kehidupan baru menuju suatu tempat yaitu Virgin Island. Ketika sampai di Virgin Island, ternyata pemuda Inggris ini terdampar. Tapi bekal rasa semangat yang sudah tertanam dalam dirinya, mulailah pemuda Inggris ini petualang dengan kehidupan barunya untuk bertahan hidup atas kekecewaannya terhadap perbuatan mantan kekasihnya.
Untuk tetap bertahan hidup pemuda Inggris ini harus makan dengan mencari ikan. Pada hari pertama memulai kehidupan barunya si Robinson mencari dan mendapatkan 4 ekor ikan. Dan hari kedua-ketiga si Robinson tetap mencari dan mendapatkan 4 ekor ikan sama seperti hari pertama dan dilakukan dengan menggunakan tangan seadanya. Pada ketiga hari itu di konsumsilah semua ikan hasil pencariaannya karena keadaan yang sangat lapar. Di hari ke empat dia memutuskan untuk menyisihkan 1 dari 4 ekor ikan hasil tangkapannya itu. Keputusan si Robinson ini dilakukannya sampai hari ke tujuh. Untuk hari ke tujuh dia mengkonsumsi hasil simpanannya dan dia berfikiran untuk berhenti beraktivitas. Waktu kosong yang tadinya untuk mencari dan mendapatkan ikan dia gunakan untuk membuat sebuah jala sebagai alat yang membantu dia untuk mendapatkan ikan lebih banyak.
Kemudian dengan adanya jala baru memungkin si Robinson mendapatkan ikan jauh lebih banyak dari pada menggunakan tangan tanpa alat. Dimana hari ke delapan si Robinson mendapatkan ikan 10 ekor dan ini hasil pencarian yang sangat luar biasa dibandingkan pada hari sebelumnya. Dengan keadaan yang sedang mabuk kepayang, dia menghabiskan semua tangkapannya. Namun di hari ke sepuluh dia kembali menyisihkan ikannya 4 dari 10 ekor hingga hari ke dua belas. Oleh karena itu pada hari ke dua belas si Robinson telah mampu menyimpan hingga 12 ekor ikan yang berarti dapat dikonsumsi untuk dua hari, tanpa dia pergi kelaut untuk mencari ikan, maka untuk hari ke tiga belas dan ke empat belas dia putuskan untuk membuat 2jala.
Pada hari ke lima belas si Robinson mampu memperoleh 2kali lipat ikan dengan 2jala. Di hari ke lima belas si Robinson telah mampu memperoleh 20 ekor ikan dimana hal tersebut merupakan sebuah pencarian dan pendapatan yang sangat banyak, padahal dia hanya membutuhkan 8 ekor ikan untuk dimakan, dan pada hari itu si Robinson dapat menyisihkan 12 ekor ikan dan begitu selanjut sampai hari ke tujuh belas dia mampu menyimpan 36 ekor ikan yang memungkinkan si Robinson bertahan dalam beberapa hari tanpa harus pergi mencari ikan, dan waktu kosong itu dapat dia gunakan untuk take-off dan pergi dari pulau tersebut.


Distorsi
Apa yang dapat ditarik dari pelajaran cerita di atas? Hasil rasa semangat yang tertanam sangat kuat dalam dirinya Robinson sebagai orang Inggris dan kemampuan berlayar yang hebat (menguasai bumi yang bulat) membuat Robinson pantang mundur berjuang. Intinnya kemampuan Robinson dalam bertahan hidup ketika terdampar di pulau tersebut adalah sebuah tekadnya yang tertanam kuat dalam dirinya sebagai seorang Inggris.